2.1 Latar Belakang terbentuknya
Pancasila Sila ke tiga
Pada
dasarnya manusia diciptakan berbagai macam suku, budaya, dan bangsa, adalah
satu kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun juga. Termasuk bangsa
Indonesia yang terdiri dari beberapa pulau-pulau yang terpisah oleh lautan
luas, sehingga terjadi beraneka macam keanekaragaman di Indonesia. Berdasarkan
fakta ini harus diakui adanya bangsa dan kebangsaan. Untuk mencapai
tujuan demi keadilan social, bangsa Indonesia harus menggalang persatuan dan
kesatuan bangsa dalam keberagaman suku dan budaya yang kita miliki. Bung Karno
sering menegaskan bahwa Pancasila adalah satu-satunya alat pemersatu bangsa
Indonesia, terutama sila ketiga yaitu persatuan Indonesia.
Dalam
fakta sejarah, selama 350 tahun Negara Indonesia dijajah dan dieksploitasi
segala sumber dayanya, sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.
Perjuangan bangsa Indonesia yang dulu bersifat kedaerahan ternyata tidak
membuahkan hasil sama sekali. Bahkan menjadikan perpecahan antar bangsa di
Indonesia. Kemudian bangkitlah kesadaran bangsa Indonesia, terutama
pemuda-pemuda Indonesia untuk saling bersatu dan melawan penjajah bersama-sama.
Sehingga teraihlah kemerdekaan Indonesia yang dapat dinikmati hingga sekarang
ini.
Melihat
sejarah dalam mencapai kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari rasa cinta tanah
air dan persatuan bangsa, maka hal itulah yang menjadikan persatuan Indonesia
menjadi salah satu pondasi terkuat berdirinya bangsa Indonesia dan landasan
untuk bangsa Indonesia dalam menjalankan pemerintahan, memajukan bangsa, dan
menghadapi ancaman sekalipun. Keberagaman suku dan budaya di Indonesia juga
perlu disatukan oleh suatu landasan pemersatu yang kuat. Sehingga dalam
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia terdapat sila ketiga yaitu Persatuan
Indonesia.
2.2 Butir-Butir Pancasila sila ke-tiga
Butir-butir Pancasila sila ke tiga adalah sebagai
berikut:
1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan
pribadi dan golongan.
2. Sanggup
dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
3. Mengembangkan
rasa cinta kepada tanah air dan bangsa
4. Mengembangkan
rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah airIndonesia.
5. Memelihara
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi dan keadilan
sosial.
6. Mengembangkan
persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Memajukan
pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
2.3 Makna Pancasila Sila Ke-Tiga
Nilai
yang terkandung dalam sila Persatuan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan
keempat sila lainnya karena seluruh sila merupakan suatu kesatuan yang bersifat
sistematis. Sila Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan
Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta mendasari dan dijiwai
sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Sila
ke -3 ini mempunyai maksud mengutamakan persatuan atau kerukunan bagi seluruh
rakyat Indonesia yang mempunyai perbedaan agama, suku, bahasa, dan budaya.
Sehingga dapat disatukan memlalui sila ini berbeda-beda tetapi tetep satu atau
disebut dengan Bhineka Tunggal Ika.
Persatuan
Indonesia mengutamakan kepentingan dan keselamatan negara ketimbang kepentingan
golongan pribadi atau kelompok seperti partai. Hal yang dimaksudkan adalah
sangat mencintai tanah air Indonesia dan bangga mengharumkan nama Indonesia.
Sila ini menanamkan sifat persatuan untuk menciptakan kerukunan kepada rakyat
Indonesia.
Sila ketiga dilambangkan dengan Pohon Beringin

Makna dari Pohon
Beringin:
- Mampu
menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa
dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
- Sanggup
dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
- Mengembangkan
rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
- Mengembangkan
rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
- Memelihara
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial.
- Mengembangkan
persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
- Memajukan
pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Persatuan
Indonesia adalah satu untuk Indonesia walaupun keadaan dimasyrakat sangat penuh
perbedaan tetapi harus menjadi satu darah Indonesia dan rela
mengorbankan kepentingan golongan demi negara Indonesia. Walaupun sangat kental
dengan berbagai budaya yang berbeda tetap harus rukun menjaga kedamaian Bhineka
Tunggal Ika.
Dalam
nilai Persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai
penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan
makhluk social. Negara merupakan suatu persekutuan hidup bersama diantara
elemen-elemen yang membentuk negara yang berupa suku, ras, kelompok, golongan,
maupun kelompok agama. Oleh karena itu perbedaan adalah merupakan bawaan kodrat
manusia dan juga merupakan ciri khas elemen-elemen yang membentuk Negara.
Konsekuensinya negara adalah beraneka ragam tetapi satu, mengikatkan diri dalam
suatu persatuan yang dilukiskan dalam suatu seloka Bhineka Tunggal Ika.
Perbedaan bukannya untuk diruncingkan menjadi konnflik dan permusuhan melainkan
diarahkan pada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dalam
kehidupan bersama untuk mewujudkan tujuan bersama.
Negara
mengatasi segala paham golongan, etnis, suku, ras, individu, maupun golongan
agama. Mengatasi dalam arti memberikan wahana atas tercapainya harkat dan
martabat seluruh warganya. Negara memberikan kebebasan atas individu, golongan,
suku, ras, maupun golongan agama untuk merealisasikan seluruh potensinya dalam
kehidupan bersama yang bersifat integral. Oleh karena itu tujuan negara
dirumuskan untuk melindungi segenap warganya dan seluruh tumpah darahnya,
memajukan kesejahteraan umum (kesejahteraan seluruh warganya) mencerdaskan
kehidupan warganya, serta kaitannya dengan pergaulan dengan bangsa-bangsa lain
di dunia untuk mewujudkan suatu ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian
abadi dan keadilan social.
Nilai
persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Hal itu terkandung nilai bahwa bahwa
nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme religious yaitu nasionalisme yang
bermoral Ketuhanan Ynag Maha Esa. Nasionalisme yang humanitik yang menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan. Oleh karena itu
nilai-nilai nasionalisme ini harus tercermin dalam segala aspek penyelenggaraan
Negara termasuk dalam era reformasi dewasa ini. Proses reformasi tanpa
mendasarkan pada moral ketuhanan, kemanusiaan, dan memegang teguh persatuan dan
kesatuan maka bukan tidak mungkin akan membawa kehancuran bagi bangsa Indonesia
seperti halnya telah terbukti pada bangsa lain misalnya Yugoslavia, Srilanka
dan lain sebagainya.
2.4 Realisasi Pancasila Sila Ketiga
dalam Bidang Pendidikan, Budaya, Ekonomi, dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2.4.1 Bidang Pendidikan
Pendidikan
adalah salah satu piranti untuk membentuk kepribadian. Penanaman kepribadian
yang baik harus dilakukan sejak dini. Terutama penanaman rasa cinta tanah air
dan rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Kepribadian yang baik
para penerus bangsa akan menentukan nasib dan kemajuan Indonesia di masa
mendatang.
Nilai-nilai
pancasila harus ditanamkan kuat pada generasi-generasi penerus bangsa. Menurut
Notonegoro (1973), perlu disusun sistem ilmiah berdasarkan Pancasila tentang
ajaran, teori, filsafat, praktek, pendidikan nasional, yang menjadi dasar
tunggal bagi penyelesaian masalah-masalah pendidikan nasional. Dengan begitu
diharapkan tujuan pendidikan nasional dapat terwujud dengan mudah. Tujuan
pendidikan nasional adalah menciptakan manusia yang beriman, bertaqwa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan
bertanggung jawab.
Rasa cinta tanah air dan persatuan yang tinggi
akan memacu semangat belajar para peserta didik. Dengan menanamkan rasa
persatuan Indonesia pada peserta didik, maka pikiran mereka tidak lagi
berorientasi bahwa persaingan prestasi adalah untuk menjadi yang lebih unggul
dan menjatuhkan lawan. Namun lebih ke rasa cinta tanah air yaitu bersaing
menjadi yang terbaik untuk satu tujuan bersama. Menuntut ilmu dengan saling
bekerjasama dan bertukar pikiran antar pelajar guna menjadikan Indonesia lebih
baik dari sekarang. Karena pelajar merupakan benih-benih pejuang bangsa, yang
akan menentukan nasib bangsa Indonesia di masa mendatang.
Penerapan
Pancasila sila ketiga dalam bidang pendidikan bagi peserta didik antara lain
dengan diadakannya pertukaran pelajar antar sekolah di Indonesia, diadakannya
lomba-lomba antar sekolah, upacara bersama, perayaan hari ulang tahun
kemerdekaan bersama-sama. Dengan upaya penerapan persatuan tersebut maka peserta
didik akan mengenal sekolah lain di luar sekolahnya sendiri, sekolah satu dan
lainnya akan saling mengisi, serta memupuk rasa persatuan antar pelajar
Indonesia.
Rasa persatuan dan kesatuan tidak hanya
ditanamkan pada peserta didik saja, namun bagi para pendidik rasa saling
bersatu juga harus tertanam kuat. Guna bekerja sama untuk menciptakan penerus
bangsa yang unggul. Serta mempersiapkan tombak-tombak bangsa yang
akan berperang melawan persaingan dunia dan kecaman jahat yang mengancam bangsa
Indonesia di masa mendatang. Salah satu penerapan persatuan di dunia pengajar
adalah di bentuknya PGRI (Persatuan Guri Republik Indoonesia).
2.4.2 Bidang Budaya
Kebudayaan
adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum,
adat-istiadat dan lain kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh
manusia sebagai anggota masyarakat (Soerjono Soekanto, 2005: 172).
Dalam sila
Persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai penjelmaan
sifat kodrat manuasia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial. Negara adalah suatu persekutuan hidup bersama diantara elemen-elemen
yang membentuk negara yang berupa, suku, ras, kelompok, golongan maupun
kelompok agama. Oleh karena perbedaan merupakan bawaan kodrat manusia dan juga
merupakan ciri khas elemen-elemen yang membentuk negara. Konsekuensinya
negara adalah beranekaragam tetapi satu, mengikatkan diri dalam suatu persatuan
yang diliukiskan dalam Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan bukan untuk
diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan melainkan diarahkan pada suatu
sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dalam kehidupan bersama untuk
mewujudkan tujuan bersama. Sehingga penanaman pengamalan persatuan Indonesia
sangat berperan penting dan harus ditanam pada setiap individu. Pembudayaan
Pancasila tidak hanya pada kulit luar budaya misalnya hanya pada tingkat
propaganda, pengenalan serta pemasyarakatan akan tetapi sampai pada tingkat
kemampuan mental kejiwaan manusia yaitu sampai pada tingkat akal, rasa dan
kehendak manusia (Kaelan, 1996: 193).
Negara mengatasi
segala paham golongan, etnis, suku, ras, indvidu, maupun golongan agama.
Mengatasi dalam arti memberikan wahana atas tercapainya harkat dan martabat
seluruh warganya. Negara memberikan kebebasan atas individu, golongan, suku,
ras, maupun golongan agama untuk merealisasikan seluruh potensinya dalam
kehidupan bersama yang bersifat integral. Oleh karena itu tujuan
negara dirumuskan untuk melindungi segenap warganya dan seluruh tumpah
darahnya, memajukan kesejahteraan umum (kesejahteraan seluruh warganya)
mencerdaskan kehidupan warganya serta dalam kaitannya dengan pergaulan dengan
bangsa-bangsa lain di dunia untuk mewujudkan suatu ketertiban dunia yang
berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Kebinekaan yang kita miliki harus dijaga
sebaik mungkin. Kebhinekaan yang kita inginkan adalah kebhinekaan yang
bermartabat, yang berdiri tegak di atas moral dan etika bangsa kita sesuai
dengan keragaman budaya kita sendiri. Untuk menjaga kebhinekaan yang bermartabat
itulah, maka berbagai hal yang mengancam kebhinekaan mesti ditolak, pada saat
yang sama segala sesuatu yang mengancam moral kebhinekaan mesti diberantas.
Karena kebhinekaan yang bermatabat di atas moral bangsa yang kuat pastilah
menjunjung eksistensi dan martabat manusia itu sendiri.
2.4.3 Bidang Ekonomi
Ekonomi
yang berdasarkan Pancasila tidak dapat dilepaskan dari sifat dasar individu dan
sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain untuk
memenuhi semua kebutuhanya. Tetapi manusia juga mempunyai kebutuhan dimana
orang lain tidak diharapkan ada atau turut campur. Ekonomi menurut pancasila
adalah berdasarkan asas kebersamaan, kekeluargaan artinya walaupun terjadi
persaingan namun tetap dalam kerangka tujuan bersama sehingga tidak terjadi
persaingan bebas yang mematikan (Kaelan, 1996: 193). Dengan demikian pelaku
ekonomi di Indonesia dalam menjalankan usahanya tidak melakukan persaingan
bebas, meskipun sebagian dari mereka akan mendapat keuntungan yang lebih besar
dan menjanjikan.
Rasa
persatuan dan kesatuan yang tertanam kuat pada diri mereka sebagai bangsa
Indonesia akan menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Pertumbuhan ekonomi di
Indonesia akan berjalan baik jika antar pelaku ekonomi saling bersatu dan
mendukung, karena tujuan mereka bukanlah menjadi penguasa ekonomi dan
menjatuhkan lawannya, namun bekerja sama bersama-sama guna kemajuan ekonomi di
Indonesia. Jadi interaksi antar pelaku ekonomi sama-sama menguntungkan dan
tidak saling menjatuhkan sehingga usaha-usaha kecil dapat berkembang dan
mendukung perekonomian Indonesia menjadi kuat.
2.4. Ilmu pengetahuan dan teknologi
Iptek
harus memenuhi etika ilmiah, yang paling berbahaya adalah yang menyangkut hidup
mati, orang banyak, masa depan, hak-hak manusia dan lingkungan hidup. Di
samping itu Ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia harus sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila karena Iptek pada dasarnya adalah untuk kesejahteraan
umat manusia. Nilai-nilai Pancasila sila ketiga bilamana dirinci dalam etika
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah sebagai berikut
(T. Jacob, 1996: 195):
1. Sumber ilmiah sebagai sumber nasional bagi warga negara seluruhnya. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tenologi
harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara.
2. Alokasi pemerataan sumber
dan hasilnya.
3. Pentingnya individualitas
dan kemanusiaan dalam catur darma ilmu pengetahuan, yaitu penelitian,
pengajaran, penerapan, dsan pengamalannya.
Persaingan
IPTEK tidak untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Namun penemuan – penemuan
baru yang membantu kegiatan manusia dan mempermudah pekerjaan manusia adalah
untuk satu tujuan yakni guna kemajuan Negara Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar